Yuk Mengenal Coelenterata Lebih Dalam
A. PENGERTIAN
COELENTERATA
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa Yunani
(Greek); coilos = rongga, enteron = usus. Gabungan istilah tersebut
tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga, tetapi cukup disebut hewan
berongga. Istilah tersebut jua mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak
memiliki rongga sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut
coelenteron. Rongga tersebut berfungsi sebagai pengendar sari makanan. Oleh
karena itu, rongga tersebut disebut juga sebagai rongga gastrovaskuler.
Filum Coelenterata ada beberapa ahli yang menyebutnya
dengan istilah filum Cnidaria. Cnidaria berasal dari kata Yunani “cnida”
yang berarti menyengat karena
memiliki sel sting. Sel sting menyengat terlihat pada tentakel disekitar mulut.
Hewan-hewan yang termasuk dalam filum ini meliputi golongan Hydra,
ubur-ubur, anemon laut, dan koral atau hewan karang. Hewan-hewan kelompok ini
biasanya memiliki simetri tubuh yang bersifat radial, termasuk juga kelompok
Ctenophora, sehingga disebut Radiata.
Dibandingkan dengan Filum Porifera, Filum Coelenterata
lebih maju tingkatan filogeninya. Kalau Porifera disebut sebagai Parazoa maka
Coelenterata sudah disebut Metazoa, walaupun masih primitif. Hal ini didasarkan
atas kekompleksan struktur tubuhnya. Porifera tubuhnya tersusun oleh banyak
sel/ multi sel, yang lebih tingga tingkatnya dibandingkan hewan Protozoa yang
tubuhnya terdiri atas satu sel saja, tetapi sel-sel tersebut belum membentuk
suatu susunan yang dapat disebut jaringan dan organ yang sesungguhnya. Hal ini
karena sel-sel tubuhnya masih cenderung bekerja secara individual. Coelenterata
tubuhnya juga tersusun oleh banyak sel dan sudah membentuk jaringan, dan
perkembangan organ tubuhnya masih terbatas.
B. CIRI-CIRI
COELENTERATA
Ciri-ciri Coelenterata adalah sebagai berikut
Dinding tubuh diploblastik (dua lapis jaringan; ektoderm/ epidermis dan endoderm/ gastrodermis) yang memiliki sel jelatang atau penyengat. Tubuh hewan-hewan Coelenterata tersusun oleh dua lapis jaringan dan satu lapisan non selular. Bagian luar berupa jaringan epidermis dan bagian dalam lapisan jaringan endodermis atau gastrodermis, sedangkan di antara kedua lapisan tersebut ada lapisan non selular yang disebut mesoglea. Jaringan gastodermis melapisi rongga gastrovaskular, sementara mesoglea merupakan masa pasta/gudir yang disekresikan oleh sel-sel epidermis dan gastrodermis. Zat-zat tersebut mengisi ruangan antara lapisan epidermis dan gastrodermis. Kadang-kadang di dalam lapisan mesogela ini terdapat sel-sel amoboid. Jadi sebenarnya tubuh Coelenterata terbangun oleh dua lapis germinal, yakni ektoderm dan endoderm.
Bentuk tubuh Coelenterata memiliki dua tipe dasar, yakni sebagai polip yang sesil atau menempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas. Tipe polip memiliki bentuk seperti tabung atau silinder, pada ujung oral terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel, dan dapat bergerak memanjang atau mengkerut. Tubuh tipe medusa berbentuk seperti sebuah bel/lonceng atau seperti payung. Bagian tubuh yang cembung berada di atas dan yang cekung di bawah. Pada bagian tengah dari cekungan terdapat mulut.
3.
Tubuh radial simentris (silindris, globular atau
spherikal).
4.
Tubuh tidak beranus tetapi hanya bermulut yang
dilengkapi dengan tentakel-tentakel disekelilingnya.
5.
Sistem pencernaan makanan tidak komplit, hanya
berupa rongga gastrovaskular.
6.
Belum memiliki alat pernapasan, sirkulasi maupun
eksresi yang khusus. Pertukaran gas
pada Coelenterata terjadi secara
langsung pada permukaan tubuhnya. Pertukaran zat tersebut berlangsung secara
langsung dengan dunia luar secara difusi dan osmosis melalui membran dari
masing-masing sel. Untuk respirasi, coelenterata mempunyai alat bantu berupa
lekukan jaringan yang terdapat pada gastrodermis disebut sifonoglia. Hal ini karena Coelenterata tidak mempunyai organ khusus untuk pernafasan,
pembuangan hasil ekskresi, dan juga tidak mempunyai darah serta sistem
peredaran darah. Semua organ-organ itu bagi Coelenterata
tidak diperlukan, sebab tubuhnya tersusun atas deretan sel-sel yang sebagian
besar masih bebas bersentuhan langsung dengan air yang ada di sekitarnya.
7. Untuk
habitatnya, coelenterata hidup di air tawar, air laut, secara solider (melekat
pada dasar perairan dan berkoloni)
8. Cara
Mendapatkan Makanan
Coelenterata
hidup pada perairan yang jerni yang mana mengandung partikel-partikel organik,
plankton atau hewan-hewan kecil. Jika terdapat hewan kecil, contohnya jentik
nyamuk. Menempel pada tentakel dan mengenai sel knidoblast, maka sel tersebut
akan mengeluarkan racun. Jentik akan lemas lalu tentakel membawanya ke mulut.
Dibawah mulut terdapat kerongkongan pendek, lalu masuk ke rongga gastrovaskuler
untuk dicerna secara ekstraseluller (luar sel). Proses pencernaan yang terjadi di dalam rongga gastrovaskular semacam
ini disebut proses pencernaan ekstraselular. Sari-sari makanan tersebut akan ditampung dan diedarkan ke segala bagian
tubuh oleh sel-sel pengembara atau sel-sel amoeboid. Di dalam sel pengembara,
khususnya di dalam vakoula makanan, sari-sari makanan yang masih belum menjadi
sederhana susunan molekul-molekulnya akan dicernakan lebih lanjut. Proses
pencernaan yang terjadi di dalam vakuola makanan semacam ini dinamakan proses
pencernaan intra-selular. Sel-sel endodermis menyerap sari-sari makanan.
Sari-sari makanan kemudian diedarkan ke bagian tubuh lainnya secara difusi.
Sisa-sisa sari makanan akan dimuntahkan melalui mulut. Setiap hewan
coelenterata mempunyai rongga gastrovaskuler. Rongga gastrovaskuler
coelenterata bercabang-cabang yang dipisahkan oleh sepctum/penyekat dan belum
mempunyai anus.
9. Cara
Hidup Coelenterata
Coelenterata hidup
bebas secara heterotrof dengan memangsa plankton dan hewan kecil di air. Mangsa
menempel pada knodosit dan ditangkap oleh tentakel untuk dimasukkan ke dalam
mulut. Habitat coelenterata seluruhnya hidup di air, secara soliter maupun
berkoloni. Ada yang melekat pada bebatuan atau benda lain di dasar perairan dan
tidak dapat berpindah untuk bentuk polip, sedangkan bentuk medusa dapat
bergerak bebas melayang di air.
C. KLASIFIKASI
COELENTERATA
Coelenterata dibedakan berdasarkan pada dominan sirkul
hidupnya menjadi tiga kelas, yaitu kelas
Hydrozoa diwakili contohnya oleh Hydra (hidup di air tawar) dan Obelia
(hidup di laut), kelas Scyphozoa yang diwakili contohnya oleh ubur-ubur (Aurelia)
dan kelas Anthozoa yang diwakili oleh golongan anemon laut dan hewan karang.
1. Kelas
Hydrozoa
Hydrozoa berasal
dari bahasa Yunani “hydro” yang berarti air “zoon” yang berarti hewan/binatang.
Secara umum hewan-hewan anggota dari kelas Hydrozoa dapat dideskripsikan
sebagai berikut; 1) ada yang hidup soliter ada yang berkoloni, 2) siklus
hidupnya terdiri dari fase polip dan fase medusa, 3) rongga gastrovaskular
tidak dilengkapi stomodeum dan mesentrium, maupun sel-sel jelatang, 4) lapisan
mesoglea merupakan lapisan yang non selular yang berbentuk bubur atau lendir
atau “pasta”, 5) gonadnya ditemukan dalam lapisan epidermis. Contoh yang paling
populer adalah Hydra yang hidup di perairan tawar dan Obelia yang
hidup di air laut. Pada uraian berikut akan dijelaskan dari Hydra dan
Obelia.
a. Hydra
(Hydrozoa air tawar)
Hydra adalah Metazoa atau hewan bersel banyak
yang hidup/ habitatnya di kolam atau di sungai /empang yang airnya mengalir.
Tubuh Hydra berbentuk polip yang hidup soliter dalam arti tidak
berkoloni, dapat berpindah tempat tetapi bisanya melekat pada obyek, misalmya
batu-batuan, batang kayu, tanaman air dan lain-lain. Tubuhnya berbentuk
silinderis yang dapat dijulurkan serta dipendekkan. Kemampuan untuk dapat
menjulur dan memendek ini karena memang tubuh Hydra memiliki
fibril-fibril khusus pada beberapa sel. Panjang tubuh Hydra mulai dari 2
sampai 20 mm, dengan diameter tubuhnya tidak lebih dari 1 mm. Ada jenis Hydra
yang berwarna hijau misalnya Hydra
vitidis, dan ada jenis yang berwarna kelabu misalnya Hydra amaricana.
Gambar Hydra
Tubuh Hydra berbentuk tabung yang bervariasi
ukuran panjang dan ketebalannya. Ujung bawah (porksimal) dari tubuhnya
merupakan bagian tertutup dan disebut cakram basal (basal disc) yang berfungsi
sebagai alat gerak dan alat pelekat. Ujuang atas (distal) dari tubuhnya
merupakan bagian yang merupakan bagian yang membentuk konus atau sirkel yang
disebut hypostome, dan bagian ujungnya terbuka disebut mulut. Di sekitar mulut
dikelilingi oleh 4 sampai 12 buah tentakel yang ramping. Bagian tubuh yang
terletak di antara mulut dan cakram basal disebut tangkai tubuh. Mulutnya
bermuara ke dalam suatu rongga yang disebut rongga gastrovaskular atau enteron
yang berfungsi untuk mencerna makanan dan sekaligus mengedarkan sari-sari
makanan keseluruh panjuru makanan. Rongga gastrovaskular ini juga berhubungan
dengan rongga yang terdapat di dalam tentakelnya. Tentakel pada Hydra dapat
dijulurkan memanjang secara ekstrim, bisa mencapai 7 cm atau lebih. Dalam
kondisi seperti ini tentakel tampak sangat tipis sehingga susah dilihat dengan
lensa. Tentakel dapat bergerak bebas untuk menangkap mangsa dan memasukkannya
ke dalam mulut.
Walaupun
belum ditemukan adanya organ-organ kelamin khusus, seperti halnya ovarium dan
testes yang permanen seperti pada hewan tingkat tinggi, Hydra dapat
menghasilkan tunas melalui penonjolan
keluar bagian tubuhnya. Pada ujung tunas terdapat mulut yang dikeiling tentakel. Tentakel untuk
manangkap makanan. Selanjutnya, makanan
dicerna di rongga gastrovaskular. Ketika tunas lepas dan tubuh
induk, tunas akan tumbuh menjadi individu baru. Pembentukan individu
baru cara demikian disebut perkembangbiakkan secara aseksual. Hydra juga mampu berkembangbiak secara
aseksual dengan membelah diri, baik membęlah secara tranversal maupun secara
longitudinal. Perkembangbiakan seperti ini biasanya dilakukan tidak secara
regular artinya secara insidental atau kadang-kadang saja, misalnya pada
kejadian regenerasi yang berlangsung secara abnormal. Sedangkan
perkembangbiakan secara seksualnya terjadi melalui peleburan sel telur (dari
ovarium) dengan sperma (dari testis). Hasil peleburan membentuk zigot yang
dapat membentuk kista. Kista dapat berenang bebas dan di tempat yang sesuai akan
melekat di dasar perairan. Jika menemukan lingkungan yang baik, inti kista
pecah dan embrio tumbuh menjadi Hydra baru.
Pada
prinsipnya makanan Hydra terutama
berupa hewan-hewan yang berukuran kecil seperti microcrustacea (copepoda; Cyclops),Annelida
atau larva-larva insekta yang hidup di dalam air. Kadang-kadang Hydra menelan mangsanya, yang justru
ukurannya lebih besar dari pada ukuran tubuhnya sendiri. Hydra yang sedang kelaparan mempunyai kebiasaan berdiri tegak di
atas cakram basalnya dengan tentakel-tentakel yang digapai-gapaikan seolah-olah
akan meraih tubuh mangsanya. Bila sekiranya sebuah tentakelnya telah menyentuh
tubuh mangsanya, maka nematokist-nematokist segera bekerja. Nematokist tipe
penetrant segera menembakkan panah beracunnya yang mengandung hipnotoksin
paralisis, sedangkan nematokist tipe volvent bekerja dengan benang lassonya
untuk menjerat kaki-kaki atau apendiks tubuh mangsanya, dan nematokist tipe
glutinannya membantu mempercepat proses penggulungan tubuh mangsanya untuk
ditarik ke dekat tubuhnya.
b.
Obelia
(Hydrozoa laut)
Obelia
merupakan contoh anggota dari kelas Hydrozoa yang hidup di perairan laut.
Obelia hdup di laut secara berkoloni. Pada fase polip, Obelia
hidup berkoloni dan terikat pada suatu tempat seperti batu-batuan, karang, pohon-pohon yang tumbang ataupun di
tumbuhan air laut lainnya misalnya ganggang laminaria dan lain-lain. Obelia
pada fase ini hidup di perairan laut yang dangkal hingga kedalaman 80 m atau
lebih dan tersebar secara kosmopolitan. Pada fase ini merupakan bentuk vegetatif. Pada Obelia
terdapat dua jenis polip. Polip
hidrant yaitu polip yang
bertugas mengambil dan mencena makanan. Polip gonangiurn yaitu polip yang bertugas melakukan perkembangbiakan aseksual dan menghasilkan Obelia
daiam bentuk medusa. Sementara
itu, pada fase medusa, Obelia hidup bebas dan soliter. Medusa berbentuk seperti payung dengan diameter tubuh sekitar 6 atau 7
mm. Tubuh medusa ini dilengkapi dengan 16-80 buah tentakel yang bergelantungan
dipermukaan oral dekat dengan bagian tepi tubuhnya. Medusa merupakan hewan yang
berkelamin terpisah, artinya ada medusa jantan dan medusa betina. Pada
fase ini merupakan bentuk
generatif yang menghasilkan gamet.
Obelia dalam siklus hidupnya mengalami peristiwa metagenesis atau pergiliran
keturunan antara reproduksi secara vegetatif (pada fase polip) dengan
reproduksi secara generatif (pada fase medusa). Perkembangbiakan secara aseksual
dilakukan oleh gonangium. Pada gonangium terbentuk tunas yang dapat memisahkan
diri dan berkembang menjadi medusa muda yang dapat berenang bebas. Medusa muda
kemudian berkembang menjadi medusa dewasa. Medusa dewasa mempunyai dua alat
kelamin (hermafrodit) yang menghasilkan sel telur dan sperma. Pembuahan terjadi
secara eksternal di luar tubuh dan membentuk zigot. Zigot akan berkembang
menjadi larva bersilia disebut planula. Pada tempat yang sesuai planula akan
merekatkan diri menjadi polip muda kemudian tumbuh menjadi Obelia. Selanjutnya
Obelia membentuk tunas sehingga terbentuk koloni Obelia yang baru. Di samping itu Obelia menunjukkan gejala polimorfisme, yaitu pada tubuh koloni
hydroidnya ditemukan bentuk atau tipe polip yang berbeda dengan fungsi yang
berbeda pula.
Siklus hidup Obelia
Obelia
bersifat karnivora, artinya makanannya berupa hewan-hewan kecil yang hidup di
dalam laut, seperti: mikro-cnustasea, mikro-nematoda dan lain-lain. Baik cara
menangkap, cara mencerna dan cara pengedaran sari makanan polanya serupa
seperti yang terjadi pada Hydra. Perbedaan antara dua kelompok hewan tersebut
adalah tidak semua cabang polip Obelia mengurus makanan. Makanan hanya diurus
oleh cabang-cabang polip tertentu yang disebut Hydranth. Dalam hal makanan
medusa Obelia bersifat karnivor, yakni berupa cacing-cacing kecil, udang-udang
kecil maupun larva-larva insekta yang hidup di perairan laut.
2.
Kelas
Scyphozoa
Scyphozoa berasal dari bahsa Yunani;
skyphos-zoon (skyhos = mangkok; zoon = hewan), jadi skyphozoa berarti hewan
yang bentuk tubuhnya menyerupai mangkok. Bentuk tubuh Scyphozoa seperti
mangkuk, transparan, dan melayang-layang di laut. Hewan ini memiliki lapisan mesoglea yang tebal sebagai sumber nutrisi. Seperti halnya kelas Hydrozoa, kelas
Scyphozoa juga menunjukkan gejala metagenesis atau pergiliran keturunan, antara
fase polip dengan fase medusa. Pada siklus hidupnya, bentuk medusa merupakan fase dominan.Contoh yang amat populer dari anggota Kelas
Scyphozoa ini ialah : Aurelia aurita atau ubur-ubur.
Gambar ubur-ubur
Ubur-ubur merupakan anggota Kelas Scyphozoa
yang mudah dikenal, karena bentuknya yang unik, yakni seperti payung dengan
wama putih/bening, ukurannya relatif besar, sering ditemukan terdampar di tepi
pantai, dan banyak dimanfaatkan untuk kerupuk unur-ubur. Deskripsi berikut ini
pada umumnya menitik beratkan tentang fase ubur-ubur (medusa) dari contoh kelas
Scyphozoa, sedangkan fase polipnya tidak diuraikan karena kehidupannya tidak
begitu menonjol dibandingkan dengan fase medusanya. Polip Aurelia berukuran 5
mm, terikat pada suatu obyek di dasar laut. Ubur-ubur bentuknya seperti payung
yang tidak begitu cembung Diameter tubuhnya biasanya berkisar antara 7,5 cm hingga 30 cm, tetapi ada juga yang dapat
mencapai 60 cm. Ubur-ubur biasa dijumpai dikawasan perairan pantai, dan
berenang-renang bebas kian kemari. Adakalanya beristirahat dengan menempelkan
diri pada batu-batu karang. Penyebarannya bersifat kosmopolitan atau banyak
ditemukan hampir di setiap daerah pantai/laut. Tubuh ubur-ubur berwana
jernih-transparan, sampai-sampai bentuk- bentuk seperti kristal yang ada pada
lapisan misoglea tampak dengan jelas. Walaupun begitu di bagian tubuh tertentu
tampak berwarna putih kebiru-biruan atau putih kemerah-merahan. Karena tubuh
ubur-ubur jemih transparan maka gonad yang ada di dalam tubuhnya nampak jelas
dari permukaan tubuhnya.
Ubur-ubur iní makanannya berupa hewan-hewan kecil yang merupakan anggota
zooplankton, misalnya udang-udang kecil, cacing, larva-larv insekta ataupun
telur-telur hewan lain yang bergerombol bersama-sama onggokan plankton sebagai
hewan yang hidupnya terapung apung di perairan.
Gambar ubur-ubur
Seperti Obelia,
Aurelia juga mengalami pergiliran
keturunan. Aurelia memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina.
Pembuahan ovum oleh sperma terjadi secara internal di dalam tubuh individu betina. Hasil pembuahan berupa zigot yang akan berkembang menjadi larva bersilia yang disebut
planula. Planula akan berenang
dan menempel pada tempat yang sesual. Setelah menempel, silia dilepaskan dan
planula tumbuh menjadi polip muda yang
disebut skifistoma. Skifistoma kemudian membentuk tunas-tunas lateral sehingga
Aurelia tampak seperti tumpukan piring
yang disebut strobila. Kuncup dewasa paling atas akan melepaskan diri dan berkembang menjadi medusa muda yang disebut efira. Selanjutnya, efira
berkembang menjadi medusa dewasa. Ubur-ubur banyak dimanfaatkan untuk
membuat tepung ubur-ubur. Tepung ini kemudian diolah menjadi bahan kosmetik
Selain untuk kosmetik, di Jepang tepung ubur-ubur juga dimanfaatkam sebagai
bahan makanan.
Siklus hidup
ubur-ubur
3.
Kelas
Anthozoa
Anthozoa berasal
dari kata Yunani anthos yang berarti
bunga dan zoon yang berarti hewan.
Polip jenis ini terdiri atas hewan berukuran kecil sampai berukuran besar dan
tekstur yang agak halus. Bentuk tubuh
Anthozoa menyerupai bunga. Anggota kelas ini hidup di laut sebagai polip
soliter maupun koloni. Hewan kelompok ini tidak memiliki bentuk medusa. Tubuh
Anthozoa tersusun dari kalsium karbonat (CaCO3), misal Acrodora dan
Diploria. Kerangka hewan Anthozoa yang telah mati akan membentuk pulau karang
(reef). Rongga gastrovaskular Anthozoa mempunyai sekat yang mengandung
nematokis. Demikian juga tentakelnya juga mengandung nematokis. Di antara
anggota keluarga Anthozoa yang paling terkenal adalah Anemone laut, karang batu
atau karang kapur dan karang tanduk.
a.
Anemon
laut
Anemon laut
(Metridium) merupakan anggota Anthozoa yang paling indah, baik dalam
penampilan bentuknya maupun dari segi wama-waminya. Tentakel-tentakelnya
teratur sedemikian rupa mengelilingi celah mulutnya seperti daun mahkota bunga
krisan. Anemone laut merupakan polip yang hidup soliter dengan wama yang
beraneka ragam, ada yang merah, biru, jingga, pink, purpel, kuning bahkan ada
yang berbintik-bintik maupun bergaris-garis. Bagian pangkal tubuhnya terbenam
di pasir, lumpur menempel pada batu karang bahkan ada yang menempel pada bekas
cangkang ganstropoda yang di tempati umang-umang atau keong (hermitcrab).
Mereka menempelkan diri pada suatu obyek, dengan bagian tubuhnya yang disebut
diskus kaki (pedal disc). Meskipun hidupnya menetap pada suatu tempat dengan
melekatkan diri pada suatu obyek, namun rnereka juga dapat bergerak walaupun
hanya sedikit bahkan juga dapat berenang. Bila mereka diganggu
tentakel-tentakelnya ditariknya masuk ke dalam celah mulutnya dan tubuhnya
dikerutkan. Akibatnya, yang semula bentuknya seonggok karung atau goni yang
kehilangan isi.
Gambar anemon laut
Tubuh
Metridium berbentuk silindris dengan bagian oral agak melebar seperti corong
yang dihiasi dengan rangkaian tentakal-tentakel yang membentuk seperti mahkota
bunga. Panjang tubuhnya sekitar 5-7 cm, tetapi ada juga yang berukuran raksasa
hingga 1m. Tubuhnya radial simetris dengan wama yang bervariasi,tetapi biasanya
warnanya kecoklat-coklatan atau kekuning-kuningan. Metridium, seperti halnya
anemon laut lainnya bersifat kamivora. Makanannya berupa hewan invertebrata
kecil-kecil lainnya, disamping itu juga berupa ikan-ikan kecil.
Metridium
berkembangbiak secara aseksual maupun secara seksual. Perkembangbiakan secara
aseksual dilakukan dengan pembentukan kuncup maupun dilakukan secara
fragmentasi. Cara fragmentasi di lakukan dengan memutuskan tubuhnya di bagian
diskus pedal. Bagian yang membawa diskus pedal akan membentuk bagian diskus
oral baru, sedangkan yang membawa bagian diskus oral akan membentuk bagian
diskus pedal baru Tetapi framentasi tersebut juga dapat terjadi secara
membujur, yang biasa dikenal dengan istilah pembelahan secara biner.
Perkembangbiakan secara aseksual dengan cara pembentukan kuncup berlangsung
sebagai berikut Mula-mula di bagian kolumna atau skapus timbul semacam tonjolan
(benjolan) yang makin berkembang sehingga akhirnya terbentuklah Metridium baru.
Metridium anakan tersebut kelak bila sudah tiba saatnya akan melepaskan diri
dari tubuh induknya dan hidup secara mandiri. Pada perkembangbiakan secara seksual
Metridium, ada jenis yang bersifat hermaprodit ada yang berkelamin terpisah.
Pada jenis yang hermaprodit,
perkembangan antara sel telur dengan spermatozoid tidak bersamaan
masaknya. Dengan demikian perkawinan sel telur dengan spermatozoid terjadi secara
perkawinan silang. Baik ovum maupun spermatozoid yang telah masak akn
dikeluarkan melalui mulutnya dan perkawinannya berlangsung di alam bebas
(perkawinan berlangsung secara eksternal di dalam air laut) Dari hasil
perkawinan antara sel telur dengan spermatozoid akan terbentuk zogot. Dari
hasil pembelahan zigot tersebut akan terbentuklah cocloblastula. Coeloblastula
tersebut selanjutnya dengan proses gastrulasi akhirnya membentuk larva yang
berambut getar atau planula. Dengan rambut getarnya, planula akan
berenang-renang secara bebas untuk mencari lingkungan hidup baru. Bila sudah
menemukan tempat yang sesuai, misalnya ada substrat untuk melekat dan
lingkungan yang cukup makanan, maka planula axan melekatkan diri pada suatu
obyek dan tumbuh menjadi polip Metridium baru.
D.
PERANAN
COELENTERATA
1.
Peranan
yang menguntungkan
a.
Sebagai
tempat berlindung, mencari makan dan berkembangbiak bagi ikan dan biota laut
lainnya seperti pada terumbu karang.
b.
Sebagai
sarana pariwisata yang mendatangkan devisa pada terumbu karang yang terdapat di
salah satu taman laut Bunaken dan Raja Ampat di Papua.
c.
Sebagai
sumber makanan karena mengandung protein yang tinggi bagi manusia, seperti
ubur-ubur.
d.
Sebagai
bahan komestik, misalnya ubur-ubur.
2.
Peranan
yang merugikan
a.
Dapat mengeluarkan
racun yang gatal berdampak kulit akan melepuh seperti pada ubur-ubur.
REFERENSI
Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito, 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Campbell, Neil A. 2015. Intisari
biologi ( Edisi ke-6). Jakarta: Erlangga.
Kastawi, Yusuf.
2005. Zoologi Avertebrata. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
L.usinger
Robert, stoter tracy. 2008. Dasar-Dasar
Zoologi. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher.
Sutarno,Nono,dkk.
2009. Zoologi Invertebrata. Jakarta: UPI.
Toharudin,Uus. 2001. Zoologi Invertebrata. Jakarta:
PrimaPress.







Comments
Post a Comment