Makalah Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Kehidupan Modern


KATA PENGANTAR


Assalammu’alaikum  Wr. Wb.

      Alhamdulillah kehadirat Allah SWT. Atas segala limpahan Rahmad, Inyah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat meyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “HUBUNGAN ILMU TASAWUF DENGAN KEHIDUPAN MODERN” dalam bentuk maupun isinya yang sederhana. Sholawat serta salam kita hanturkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penutup nabi-nabi terdahulu, dan para keluarganya, serta sahabatnya.
      Pada kesempatan kali ini izinkan penulis untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada bapak Hendra Fitri Candra, M.Pd.I selaku dosen pembimbing mata kuliah “Akhlak Tasawuf”. Harapan dengan adanya makalah ini bisa menjadi suatu yang bermanfaat bagi kita semua, khususnya para Mahasiswa/Mahasiswi “Tadris Biologi” dan semua pihak umumnya.
      Penulis harapan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi teman-teman  pembaca dan menjadikan amal sholeh bagi penulis, Aamiin Yaa Robbal A’lamin.

Wassalammualaikum Wr. Wb.
Palangkaraya, 17 Desember 2019


     Penulis


DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................. ii
BAB I       PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A.    Latar Belakang................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C.     Tujuan................................................................................................ 2
BAB II     PEMBAHASAN...................................................................................... 3
A.    Pengertian Ilmu Tasawuf................................................................... 3
B.     Pengertian Kehidupan Modern.......................................................... 6
C.     Ciri-Ciri Kehidupan Modern.............................................................. 8
D.    Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Kehidupan Modern..................... 10
E.     Peran Tasawuf  Dalam Kehidupan Modern.........................................11
BAB III    PENUTUP............................................................................................... 20
A.    Kesimpulan........................................................................................ 20
B.     Saran.................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

PEDAHULUAN

A.    Latar Belakang  

Belajar tasawuf yang sangat penting bagi umat Islam bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Dari segi asal-muasal kata saja, sering terjadi pro dan kontra. Belum lagi aplikasi praktisnya untuk menjalani kehidupan secara tasawuf itu sendiri.
Tidak sedikit orang yang salah faham terhadap tasawuf. Sebagian orang mengidentifikasikan  tasawuf  dengan orang-orang yang  hidupnya anti dunia, anti kekayaan  bendawi, anti komunitas sosial, dan lain sebagainya. Sementara lainnya, bahkan ada pula yang lebih ekstrim, yaitu ketika tasawuf didekatkan dengan kehidupan yang penuh dengan kemiskinan, kumuh dan jauh dari kemapanan finansial.
Arus modernisasi dan globalisasi akan menciptakan sebuah sistem yang dapat melepas dan membebaskan manusia dari belenggu serta keterikatan terhadap ajaran agama, nilai-nilai spiritualitas, adat-istiadat dan sebagainya. Paradigma seperti ini manusia secara individual merasa berhak atas segalanya dan bebas menentukan nasibnya sendiri secara rasional tanpa ikatan agama maupun norma di masyarakat.
Kehidupan yang semakin kompetitif dan daya saing semakin keras berdampak banyaknya manusia yang mengalami stress dan frustasi yang luar biasa. Masyarakat modern secara tidak langsung akan menganut dan mengikuti pola hidup materialistis, kapitalis, hedonis dan individualis. Untuk meminimalisir hal tersebut manusia perlu disirami dan disinari oleh n ilai-nilai ajaran Islam yang penjabaraan serta penerapannya terdapat dalam ajaran tasawuf

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan ilmu tasawuf?
2.      Apa yang dimaksud dengan kehidupan modern?
3.      Apa saja ciri-ciri kehidupan modern?
4.      Bagaimana hubungan ilmu tasawuf dengan kehidupan modern?
5.      Bagaimana peran tasawuf dalam kehidupan modern?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui tentang ilmu tasawuf
2.      Untuk mengetahui tentang kehidupan modern
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri kehidupan modern
4.      Untuk mengetahui hubungan ilmu tasawuf dengan kehidupan modern
5.      Untuk mengetahui peran tasawuf dalam kehidupan modern


BAB II PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ilmu Tasawuf

Istilah tasawuf berasal dari bahasa Arab dari kata”tashowwafa-yatashowwafu-tashowwuf” mengandung makna (menjadi) berbulu yang banyak, yakni menjadi sufi atau menyerupainya dengan ciri khas pakainnya terbuat dari bulu domba/wol (suf), walaupun pada prakteknya tidak semua ahli sufi pakaiannya menggunakan wol. Menurut sebagian pendapat menyatakan bahwa para sufi diberi nama sufi karena kesucian (shafa) hati mereka dan kebersihan tindakan mereka. Di sisi yang lain menyebutkan bahwa seseorang disebut sufi karena mereka berada di baris terdepan (shaff) di hadapan Allah, melalui pengangkatan keinginan mereka kepadanya. Bahkan ada juga yang mengambil dari istilah ash-hab al-Shuffiah, yaitu para sahabat Nabi SAW yang tinggal di kamar/serambi-serambi masjid (mereka meninggalkan dunia dan rumah mereka untuk berkonsentrasi beribadah dan dekat dengan Rasulullah SAW).[1]
Tasawuf merupakan suatu usaha dan upaya dalam rangka mensucikan diri (tazkyyyat unnafs) dengan cara menjauhkan dari pengaruh kehidupan dunia yang menyebabkan lalai dari Allah SWT untuk kemudian memusatkan perhatiannya hanya ditujukan kepada Allah SWT. Menurut syaikh Muhammad Amin al-Kurdi bahwa tasawuf adalah ilmu yang menerangkan tentang keadaan-keadaan jiwa (nafs) yang dengannya diketahui hal-ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, jalan menuju Allah, dan  meninggalkan (larangan-larangan) Allah menuju (perintah-perintah) Allah SWT.[2]
Ada dua pengertian ilmu tasawuf yang dianut oleh para pengikutnya.  Pertama, ilmu tasawuf diartikan sebagai ilmu tentang kesucian jiwa untuk menghadapi tuhan sebagai zat yang maha suci. Kedua, ilmu tasawuf diartikan sebagai ilmu yang mempelajari upaya pendekatan diri secara individual kepada tuhannya.
Pada intinya ilmu tasawuf mempelajari bagaimana mensucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran Tuhan senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan.
Apabila ditinjau dari Al Qur’an. Sebenarnya ilmu tasawuf mengacu pada  al-qur’an surah Al-A'la ayat 14-15:

Artinya : “sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan mengingat nama tuhannya, lalu dia shalat”.

Secara ringkas tasawuf adalah suatu norma,  aturan,  dan  ilmu bagaimana orang bisa mendidik jiwa dan hatinya untuk bisa berakhlakul karimah, beribadah,  dan  selalu  mendekatkan diri kepada Allah serta selalu mencari ridha-Nya.  Oleh karena itu tasawuf  adalah jalan yang  harus  ditempuh  oleh  setiap individu yang ingin mencari keselamatan hidup  di  dunia  dan  akhirat,  baik  oleh orang-orang yang hidup di masa lalu, masa kini maupun yang akan datang.
Secara terminologi, menurut Muhammad Amin Al-Kurdy  tasawuf adalah  suatu ilmu yang  dengannya dapat  diketahui  hal-ihwal  kebaikan  dan keburukan  jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang  buruk  dan mengisinya  dengan  sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan  suluk, melangkah  menuju  keridhaan  Allah  dan meninggalkan  larangan-Nya  menuju kepada  perintah-Nya.[3]

B.     Pengertian Kehidupan Modern

Saat ini manusia hidup pada dunia modern, yang ditandai dengan kehidupan modern. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia mengartikan kehidupan sebagai suatu cara (keadaan atau hal) hidup. Sedangkan modern adalah sesutu yang terbaru, secara baru dan mutakhir.
Jadi, berdasarkan dua pengertian tersebut, maka kehidupan modern adalah kehidupan yang maju, dengan berbagai fasilitas kehidupan mulai dari perumahan, makanan, minuman, pakaian, transportasi, komunikasi, hiburan dan lain-lain. Kehidupan menjadi semakin sintesis dan instan.[4]
Saat makan misalnya, orang modern lebih menyukai makanan dan minuman yang cepat saji. Padahal makanan cepat saji itu memerlukan berbagai macam bahan tambahan yang sering kali justru tidak dibutuhkan oleh tubuh manusia dan sering kali malah berbahaya.[5]
Istilah modernitas diderivasikan dari istilah modern. Istilah modern pertama kali muncul pada abad ke-16 (sekitar tahun 1500-an di Eropa), berasal dari bahasa latin moderna yang artinya sekarang, baru, atau saat ini. Melalui istilah inilah kata modernitas itu muncul. Modernitas bukan hanya menunjuk pada suatu periode, melainkan juga suatu bentuk kesadaran yang terkait dengan kebaruan (Inggris: Newness), karena itu istilah perubahan, kemajuan, revolusi, pertumbuhan adalah istilah-istilah kunci kesadaran modern. Pemahaman tentang modernitas sebagai suatu bentuk kesadaran itu, lebih mendasar dari pada pemahaman-pemahaman yang bersifat sosiologis maupun ekonomis.
Kata modern sebetulnya sangat menyingkap suatu kesadaran diri yang historis, dari orang tertentu sera menandai adanya perbedaaan antara kondisi masa sekarang dengan kondisi masa lalu. Oleh karena itu, istilah modernitas disini dapat dimaknai sebagai wujud nyata dari realitas kemodernan yang terjadi saat ini di masyarakat.[6]
Kehidupan modern seringkali di barengi dengan segala sesuatu bersifat teknologi. Kini yang menjadi persoalan adalah penggunakan teknologi masih lebih banyak dikendalikan dan dikuasai oleh orang-orang yang moralitas kurang dapat dipertanggungjawabkan. Hal tersebut tergambar dari sikap hidup mereka yang materialistik, hedonistik, dan totaliteristik. Dari sikap mental tersebut telah menimbulkan berbagai persoalan dan efek negatif dari kemajuan teknologi terlihat nyata dalam kehidupan modern. [7]

C.    Ciri-Ciri Kehidupan Modern

  Modern  adalah  sikap  dan  cara berfikir  dan  bertindak  sesuai  dengan tuntutan zaman.  Menurut  Deliar  Noer, sebagaimana  dikutip  oleh  Abudin  Nata, ciri-ciri  masyarakat  modern  adalah sebagai berikut:[8]
1. Bersifat Rasional
         Masyarakat modern lebih mengutamakan pendapat akal  pikiran, dari  pada  pendapat emosi. Mereka mengedepan  pendapat  yang  dapat diterima  oleh akal. Logis  dan  empiris. Karenanya,  mereka  tidak  percaya  pada tahayul  dan  kegaiban-kegaiban yang di luar  nalar, meskipun mereka juga  sering menjumpainya sebagai pengalaman. Bersifat rasional  berarti  segala sesuatunya bersifat logis, sistematis dan kritis sebagai hasil dari berfikir rasional.[9]
2. Berfikir Futuristik
Masyarakat modern bersifat futuristik. Mereka berfikir  untuk masa depan yang lebih baik, terprogram. Tidak hanya  berfikir  saat  ini  atau  keperluan saat  ini  saja, melainkan  mempersiapkan strategi untuk masa depan.
3. Menghargai Waktu
Masyarakat modern selalu berfikir bahwa  waktu  sangat  berharga  dan dimanfaatkan secara  maksimal. Ada istilah ‘waktu  adalah  uang’, sehingga mereka  tidak  ingin  menyia-nyiakan waktu  untuk  sesuatu  yang  belum  jelas untung  ruginya. Waktu  yang  ada dimanfaatkan  sebaik  mungkin, terprogram  dan  dilaksanakan sesuai schedule yang  telah  disusun sebelumnya.
4. Bersikap Terbuka
Masyarakat modern bersikap terbuka (open minded), artinya siap menerima masukan, saran, kritikan dan apapun bentuknya dari siapapun demi perbaikan hidup dan kehidupan.
5. Berfikir Obyektif 
Masyarakat modern melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya. Sedangkan menurut Atho Muzhar,  masyarakat  modern  ditandai oleh lima hal: Pertama, berkembangnya Mass Culture. Kedua, tumbuhnya  sikap-sikap yang lebih mengakui kebebasan bertindak manusia menuju  perubahan masa depan. Ketiga, tumbuhnya berfikir rasional. Keempat,  tumbuhnya sikap hidup yang materialistik. Kelima, meningkatnya laju urbanisasi.[10]
Melihat karakteristik masyarakat modern seperti  di  atas,  tentu saja  akan melahirkan berbagai problem kehidupan, sekaligus tantangan bagi tasawuf  dan keagamaan.

D.    Hubungan Ilmu Tasawuf Dengan Kehidupan Modern

Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syari’ah sekaligus. Ia bisa dipahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui pendekatan tasawuf suluki, dan bisa memuaskan dahaga intelektual melalui pendekatan tasawuf falsafi. Karena tasawuf ini bisa diamalkan oleh setiap muslim, dari lapisan sosial manapun dan di tempat manapun.[11]
Telah disebut di muka bahwa bertasawuf artinya mematikan nafsu dirinya untuk menjadi diri yang sebenarnya. Jadi dalam kajian Tasawuf, nafs difahami sebagai nafsu, yakni tempat pada diri seseorang dimana sifat - sifat tercela berkumpul, Nafs juga dibahas dalam kajian Psikologi dan juga filsafat. Dalam upaya memelihara agar tidak keluar dari koridor Al- Qur’an maka baik tasawuf maupun Psikologi (Islam) perlu selalu menggali konsep nafs (dan manusia) menurut Al - Qur’an dan hadis.
Intisari ajaran tasawuf sebagaimana paham mistisme dalam agama-agama lain adalah bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari  dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadaranya itu berada di kehadirat - Nya. Upaya ini antara lain dilakukan kontemplasi, melepaskan diri dari jeratan dunia yang senantiasa berubah dan bersifat sementara. Sikap dan pandangan sufistik ini sangat diperlukan oleh masyarakat modern yang mengalami jiwa yang terpecah sebagaimana disebutkan, asalkan pandangan terhadap tujuan tasawuf tidak dilakukan secara  ekslusif dan individual, melainkan berdaya aplikatif dalam meresponi berbagai masalah yang dihadapi.[12]
Abad yang berkembang telah tiba, teknologi yang modern semakin berkembang. Perkembangannya seiring dengan perubahan  waktu. Siapa yang tidak bisa mengejar perkembangan berarti ketinggalan zaman. Inilah perkataan yang memancing kita terjerumus terjun ke dalam tawaran kemodernismean.  Modernisme merupakan tanda kemajuan dan moderniame juga merupakan tanda kemunduran suatu  bangsa. Perkembangan dalam berbagai bidang, dari bidang ekonomi sampai bidang teknologi. Hal telah banyak membuat kita lupa akan daratan kita tujuan awal yang sejak awal kita bangun. Kenyataannya, modernisme makin hari membawa diri kita terselubungi dengan perkembangan teknologi.
Sebagaimana firman Allah dalam al-qur’an surah Ar-Rum ayat 41:


Artinya : “ telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Efeknya, penghayatan terhadap Islam mulai digantikan dengan penghayatan duniawi yang serba ingin modern. Prinsip materiaistik memenuhi otak pikiran, yang melepaskan kontrol agama dan kebebasan bertindak demi memenuhi modernisme telah berkuasa untuk mengalahkan terapi sufisme atau tasawuf. Masyarakat modern semakin mendewakan keberadaan ilmu pengetahuan, maka seakan-akan kita berada pada wilayah pinggiran yang bermadzab kebaratan dan bahkan kita hampir-hampir kehilangan visi keillahian. Hal inilah yang membuat kita makin stress dan gersang hati kita dengan dunia, akibat tidak mempunyai pegangan hidup.
Sebagai muslim yang beritikad shaleh untuk agama, berkeyakinan baik dengan adanya perkembangan zaman, hendaknya menyeimbangi pekembangan tersebut bukan mengikuti bahkan terpengaruh perkembangan zaman. Untuk itu, pertebal kekuatan keilmuan untuk menyeimbangi perkembangan zaman.  Sekularitas Tasawuf menjadi jawaban ini semua, harapan terbesar dengan menjadikan manusia berpaling sejenak untuk manggapai lagi sifat keilahiannya yang sering kali pudar dengan modernisme. Ajakan dan rayuan semata, telah membutakan sekilas perjuangan yang selama ini kita rintis. Seyogyanya kemampuan mengeksistensikan kembali tasawuf- lah yang bisa menyayat sedikit gemerlap hujatan hitam di dunia modern ini.
Tasawuf menjanjikan penyelamatan. Apalagi di tengah berbagai krisis kehidupan yang serba materialis, hedonis, sekular, plus kehidupan yang makin sulit secara ekonomis maupun psikologis itu, tasawuf memberikan obat penawar rohani, yang memberi daya  tahan. Dalam wacana kontemporer, sering dibahas tasawuf sebagai  obat mengatasi krisis kerohanian manusia modern yang telah lepas dari pusat dirinya, sehingga ia tidak mengenal lagi siapa dirinya, arti dan tujuan dari kehidupan di dunia ini. Ketidakjelasan atas makna dan tujuan hidup ini memang sangat tidak mengenakkan,   dan membuat penderitaan batin. Maka mata air tasawuf yang sejuk dan memberikan penyegaran dan penyelamatan pada manusia- manusia yang terasing itu.
Luasnya pengaruh tasawuf dalam hampir seluruh episode peradaban islam menandakan tasawuf relevan dengan kebutuhan umat islam. Menurut Hamka tasawuf ibarat jiwa yang menghidupkan tubuh dan merupakan jantung dari keislaman. Dalam masyarakat modern fenomena ketertarikan terhadap pengajian bernuansa tasawuf mencerminkan adanya kebutuhan untuk mengatasi problem alenasi yang diakibatkan modernitas. Modernitas memberikan kemudahan hidup tetapi tidak selalu memberikan kebahagiaan. 

E.     Peran Tasawuf Dalam Kehidupan Modern

Melihat  gejala  manusia  modern  yang  penuh  dengan problematika  dan  mengakibatkan kekosongan  spiritual,  maka  sudah waktunya  untuk  mencari sebuah  solusi  untuk  melakukan  perbaikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat dan di sinilah ilmu tasawuf memiliki peran yang amat penting.[13]
Tasawuf  berperan  melepaskan  kesengsaraan  dan  kehampaan spiritual  untuk memperoleh  keteguhan  dalam  mencari  Tuhan.  Karena inti  ajaran  tasawuf  adalah bertujuan  untuk  memperoleh  hubungan langsung  dan  disadari  dengan  Tuhan, sehingga  seseorang  merasa  di hadirat-Nya  dan  terlepas  dari  kegundahan,  kesedihan,  dan  kegalauan. Adapun  ajaran  tasawuf  yang  paling  mendasar  yang dapat  dijadikan sebuah  solusi  dalam  mengatasi  problematika  kehidupan  masyarakat modern  yaitu  dengan  mengadakan  instropeksi  diri  atau  dalam  bahasa tasawuf dikenal dengan muhasabah terhadap diri sendiri.[14]
Sementara itu, Komaruddin Hidayat berpendapat perlunya memperkenalkan nilai-nilai tasawuf  pada masyarakat  dengan  tujuan agar  nilai-nilai tasawuf turut serta terlibat dan berperan dalam menyelamatkan  kemanusiaan dari kegersangan spiritual,  dan memperkenalkan nilai-nilai esetoris (kebatinan) Islam sebagai referensi,  khususnya kepada masyarakat barat.[15] Upaya  tersebut  akan  melahirkan  ketahanan  diri  serta  terhindar dari  kemungkinan  pelencengan  kepribadian.  Hasil dari  sikap  ini  adalah sikap rendah hati dan tidak arogan.
Dalam  pandangan tasawuf,  penyelesaian dan perbaikan di  atas tidak  dapat  tercapai secara optimal  jika  hanya berorientasi  untuk mencari  kehidupan  lahir, karena  kehidupan lahir  hanya  merupakan gambaran  atau  akibat  dari  kehidupan manusia  yang  digerakkan  oleh tiga  kekuatan  pokok  yang  ada  pada  diri manusia,  yaitu:  akal,  syahwat, dan nafsu amarah.
Sebagaimana pada firman Allah dalam surah Al-Fajr ayat 28-30:


Artinya: “kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridha-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba ku. Masuklah ke dalam surga-ku”.

Oleh sebab itu, untuk dapat menghasilkan secara optimal dalam membenahi  keadaan masyarakat  modern,  tasawuf  mempunyai  potensi untuk  menawarkan  kebebasan spiritual, dapat  memberikan jawaban-jawaban  terhadap  kebutuhan  spiritual, mempersenjatai  diri  manusia dengan  nilai  nilai  rohaniah  yang  akan membentengi diri  saat menghadapi  problem  kehidupan  yang  serba  materialistik dan berusaha merealisasikan  keseimbangan  jiwa  sehingga timbul kemampuan menghadapi problem-problem yang ada, mengajak manusia  mengenal dirinya  sendiri  dan akhirnya  tasawuf  mengajak  mengenal  Allah melalui ajaran ajarannya yang mampu memberikan solusi bagi manusia untuk menghadapi krisis-krisis dunia.[16]
Usaha  perbaikan  tersebut dapat  ditempuh  melalui  tiga  tahapan  yang  terkandung dalam  ajaran tasawuf,  yaitu  takhalli,  tahalli,  dan  tajalli  yang  diyakini mampu memberikan solusi untuk memprbaiki kondisi masyarakat modern yang sedang mengalami kerusakan moral dan kehampaan nilai nilai spiritual disebabkan karena meninggalkan ajaran agama. Beberapa ajaran  tasawuf tampaknya dapat memberikan sumbangan  positif  yang dapat  diamalkan  dalam  kehidupan masyarakat modern dan dapat digunakan sebagai solusi masyarakat, sebagai benteng spiritual dalam menghadapi berbagai problematikan modern. Untuk itu, dalam mengatasi  problematika  masyarakat  modern,  tasawuf  harus dijadikan alternatif terpenting.[17]
Ajaran  tasawuf  perlu  di  aplikasikan  dalam  seluruh  aspek kehidupan manusia modern, aspek ekonomi, sosisl, politik, kebudayaan, dan lain  sebagainya.  Dengan  menerapkan  ajaran  tasawuf  secara proporsional  dan  menerapkan  prinsip-prinsip  moral  Islam,  maka  akan terwujud  kapribadian  manusia  utama  yang  mampu menjadi  warga masyarakat dan bangsa yang baik dan bermanfaat.[18]

BAB III PENUTUP

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Pada intinya ilmu tasawuf mempelajari bagaimana mensucikan jiwa sesuci mungkin dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kehadiran Tuhan senantiasa dirasakan secara sadar dalam kehidupan.
2.      Kehidupan modern adalah kehidupan yang maju, dengan berbagai fasilitas kehidupan mulai dari perumahan, makanan, minuman, pakaian, transportasi, komunikasi, hiburan dan lain-lain. Kehidupan menjadi semakin sintesis dan instan.
3.      Ciri-ciri masyarakat modern yaitu bersifat rasional, menghargai waktu, berfikir futuristik, bersikap terbuka dan berfikir obyektif 
4.      Relevansi tasawuf dengan problem manusia modern adalah karena tasawuf secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syari’ah sekaligus.
5.      Tasawuf  berperan  melepaskan  kesengsaraan  dan  kehampaan spiritual  untuk memperoleh  keteguhan  dalam  mencari  Tuhan .

B.     Saran

     Demikianlah makalah yang dapat kami berikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat pembaca atau pun kirtik dan saran sangat membantu demi ketercapainya maklah yang lebih baik



[1] Bahrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, Serang: Putri Kartika Banjarsari, 2015. Hlm. 1
[2] Ibid, Hlm. 2
[3] Ahmad Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2014. Hlm. 203.
[4] Mochammad Sodiq, Ilmu Kealaman Dasar, Jakarta: Kencana, 2014. Hlm. 22.
[5] Ibid
[6] Emanuel Wora, Kritik Atas Modernisme dan Postmodernisme, Jakarta: Kanisius, 2006. Hlm. 37.
[7] Rahmawati, Peran Akhlak Tasawuf Dalam Masyarakat Modern, kendari: Al-Munzir, 2015. Hlm. 234
[8] Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000. Hlm. 279-280.
[9] Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996. Hlm. 23-24
[10] M. Atha Muzhar, Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Tantangan Hidup Beragama Dimasa Depan, Jakarta: Balai Pustaka, 1993. Hlm. 11-12
[11] Tim Penyusun, Akhlak Tasawuf, Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2001. Hlm. 21
[12] Ibid
[13] Rahmawati, Peran Akhlak Tasawuf Dalam Masyarakat Modern, kendari: Al-Munzir, 2015. Hlm. 241
[14] Ibid, Hlm.  241-242
[15] Ibid, Hlm. 242
[16] Ibid, Hlm. 242
[17] Ibid, Hlm.  242-243
[18] Ibid, Hlm.  243

Comments

Popular posts from this blog

Makalah Fenomena Guru Teladan

Makalah Sejarah Perkembangan Mipa

Makalah Islam, Keluarga dan Masyarakat